Systematic Literature Review (SLR): Panduan Lengkap + Langkah PRISMA 2020
Apa Itu Systematic Literature Review?
Systematic Literature Review (SLR) adalah metode tinjauan pustaka yang menggunakan metodologi terstruktur, transparan, dan dapat direproduksi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis semua bukti ilmiah yang relevan terhadap pertanyaan penelitian tertentu.
Berbeda dari tinjauan pustaka biasa yang bersifat naratif dan subjektif, SLR mengikuti protokol yang telah ditentukan sebelumnya — sehingga hasilnya lebih objektif dan komprehensif.
SLR pertama kali dipopulerkan di bidang kedokteran (Cochrane Collaboration), tapi sekarang digunakan luas di bidang pendidikan, sosial, teknik, bisnis, dan informatika.
Kapan Anda Membutuhkan SLR?
SLR diperlukan dalam situasi berikut:
- Tesis atau disertasi yang membutuhkan tinjauan pustaka komprehensif
- Paper jurnal bertipe “review article” atau “systematic review”
- Proposal penelitian yang perlu menunjukkan state-of-the-art
- Kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy)
- Meta-analysis — sintesis kuantitatif dari beberapa studi
Jika Anda mahasiswa S2/S3 di bidang kesehatan, pendidikan, atau sosial, kemungkinan besar Anda wajib melakukan SLR sebagai bagian dari tesis.
SLR vs Literature Review Biasa
| Aspek | Literature Review Biasa | Systematic Literature Review |
|---|---|---|
| Protokol | Tidak ada / fleksibel | Protokol ketat, pre-defined |
| Pencarian | Ad-hoc, Google Scholar | Multi-database, Boolean query |
| Seleksi paper | Subjektif | Kriteria inklusi/eksklusi eksplisit |
| Quality assessment | Jarang dilakukan | Wajib (CASP, NOS, ROB2, dll.) |
| Reprodusibilitas | Rendah | Tinggi — orang lain bisa mereplikasi |
| Bias | Rawan cherry-picking | Diminimalkan oleh protokol |
| Pelaporan | Bebas | PRISMA 2020 / MOOSE |
| Waktu | 2-4 minggu | 2-6 bulan |
8 Langkah SLR (PRISMA 2020)
Berikut 8 langkah SLR yang mengikuti pedoman PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses):
Langkah 1: Definisikan Protokol
Sebelum mulai pencarian, tentukan:
- Research question menggunakan framework (PICO, SPIDER, PEO)
- Kriteria inklusi — jenis studi, periode publikasi, bahasa, populasi
- Kriteria eksklusi — apa yang tidak dimasukkan (dan alasannya)
- Database yang akan dicari
- Strategi pencarian — kata kunci, Boolean operator
Protokol sebaiknya didaftarkan di PROSPERO (untuk bidang kesehatan) atau dicatat di proposal penelitian.
Langkah 2: Buat Strategi Pencarian
Strategi pencarian yang baik menggunakan:
- Boolean operator: AND, OR, NOT
- Truncation: educ* (mencakup education, educational, educator)
- MeSH terms (untuk PubMed): controlled vocabulary yang memastikan pencarian komprehensif
- Minimal 2 database — PRISMA 2020 mensyaratkan pencarian di lebih dari 1 database
Contoh query:
(“social media” OR “social networking” OR Instagram OR TikTok)
AND (“academic performance” OR “academic achievement” OR GPA)
AND (student* OR undergraduate* OR “higher education”)
Langkah 3: Pencarian & Deduplikasi
Jalankan query di semua database yang ditentukan. Catat jumlah hasil per database. Gabungkan semua hasil, lalu hapus duplikat (paper yang muncul di lebih dari 1 database).
Langkah 4: Screening
Screening dilakukan dalam 2 tahap:
- Title/Abstract screening — baca judul dan abstrak, putuskan include/exclude berdasarkan kriteria
- Full-text screening — baca paper lengkap yang lolos tahap 1, putuskan inklusi final
Idealnya, screening dilakukan oleh 2 reviewer independen untuk mengurangi bias. Hitung inter-rater reliability (Cohen’s Kappa) untuk melaporkan tingkat kesepakatan.
Langkah 5: Ekstraksi Data
Buat form ekstraksi data yang mencakup: penulis, tahun, desain studi, populasi, intervensi, outcome, hasil utama, dan quality assessment score.
Langkah 6: Quality Assessment
Evaluasi kualitas setiap studi menggunakan tool yang sesuai:
| Tool | Untuk Jenis Studi |
|---|---|
| CASP | Berbagai jenis (qualitative, cohort, RCT) |
| ROB2 | Randomized Controlled Trials |
| ROBINS-I | Non-randomized studies |
| NOS (Newcastle-Ottawa) | Observational studies |
| JBI | Qualitative studies |
| GRADE | Certainty of evidence |
| Jadad Scale | Clinical trials (quick assessment) |
Langkah 7: Sintesis
Sintesis bisa berupa:
- Narrative synthesis — rangkuman kualitatif dari temuan
- Meta-analysis — sintesis kuantitatif menggunakan statistik (jika data memungkinkan)
Langkah 8: Tulis Laporan
Laporan SLR harus mengikuti PRISMA 2020 checklist dan menyertakan PRISMA flow diagram yang menunjukkan jumlah studi di setiap tahap (identified → screened → included).
TulisPaper.id punya module SLR 8 langkah lengkap: protocol, search (OpenAlex + PubMed), screening dengan AI, extraction, quality assessment (9 tools), meta-analysis (forest plot + funnel plot), dan PRISMA flow otomatis.
Mulai SLR GratisFramework: PICO, SPIDER, PEO
Framework membantu Anda merumuskan research question yang terstruktur:
| Framework | Komponen | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| PICO | Population, Intervention, Comparator, Outcome | Studi kuantitatif, RCT, kedokteran |
| SPIDER | Sample, Phenomenon, Design, Evaluation, Research type | Studi kualitatif, mixed method |
| PEO | Population, Exposure, Outcome | Studi observasional, epidemiologi |
| PCC | Population, Concept, Context | Scoping review |
| PICOTS | PICO + Timing + Setting | Clinical trials yang spesifik |
Contoh PICO:
Population: Mahasiswa S1 di Indonesia
Intervention: Penggunaan media sosial (>3 jam/hari)
Comparator: Penggunaan <1 jam/hari
Outcome: Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)
Database untuk Pencarian
| Database | Cakupan | Biaya | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|
| OpenAlex | 323 juta+ karya | Gratis | Semua bidang |
| PubMed | 36 juta+ artikel | Gratis | Biomedis, kesehatan |
| Scopus | 90 juta+ records | Berbayar | Multidisiplin |
| Web of Science | 80 juta+ records | Berbayar | Multidisiplin |
| SINTA | Jurnal Indonesia | Gratis | Jurnal nasional |
| Garuda | Jurnal Indonesia | Gratis | Jurnal nasional |
Tips: PRISMA 2020 mensyaratkan pencarian di minimal 2 database. Kombinasi OpenAlex + PubMed (keduanya gratis) sudah cukup untuk kebanyakan SLR.
Meta-Analysis: Kapan dan Bagaimana
Meta-analysis adalah sintesis kuantitatif yang menggabungkan hasil dari beberapa studi. Anda bisa melakukan meta-analysis jika:
- Minimal 3-5 studi dengan outcome yang sama
- Studi menggunakan desain yang serupa
- Data effect size tersedia (mean, SD, OR, RR, dll.)
Hasil meta-analysis biasanya disajikan dalam bentuk:
- Forest plot — visualisasi effect size setiap studi + pooled estimate
- Funnel plot — deteksi publication bias
- Heterogeneity test — I² statistic, Q test
Software yang umum dipakai: R (package metafor), RevMan (Cochrane), atau TulisPaper.id (meta-analysis engine built-in).
Tools untuk SLR
| Tool | Harga | Fitur Utama |
|---|---|---|
| TulisPaper.id | Mulai Rp 0 | 8-tab SLR workflow, AI screening, meta-analysis, PRISMA otomatis, 9 framework, 9 QA tools |
| Covidence | ~$240/tahun | Screening, extraction, Cochrane integration |
| Rayyan | Gratis (terbatas) | Screening AI, kolaborasi |
| ASReview | Gratis (open source) | AI screening, Python-based |
| RevMan | Gratis (Cochrane) | Meta-analysis, forest plot |
FAQ
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk SLR?
Rata-rata 3-6 bulan untuk SLR lengkap. Dengan tools yang tepat dan AI assistance, bisa dipercepat menjadi 4-8 minggu.
Apakah SLR wajib untuk skripsi S1?
Umumnya tidak wajib. Skripsi S1 biasanya cukup dengan literature review naratif. SLR lebih umum untuk tesis S2, disertasi S3, dan paper jurnal. Namun, beberapa prodi mulai mensyaratkan SLR sederhana. Untuk panduan skripsi, baca Cara Menulis Skripsi.
Apa perbedaan SLR dan scoping review?
SLR menjawab pertanyaan spesifik dengan kriteria ketat. Scoping review memetakan evidence yang tersedia secara luas tanpa quality assessment. Scoping review cocok untuk tahap awal eksplorasi topik.
Harus pakai framework apa?
Tergantung jenis penelitian: PICO untuk studi kuantitatif/intervensi, SPIDER untuk kualitatif, PEO untuk observasional. Diskusikan dengan pembimbing Anda.
Bolehkah melakukan SLR sendirian (tanpa second reviewer)?
Idealnya 2 reviewer. Tapi untuk tesis, banyak kampus menerima single reviewer dengan catatan transparansi protokol. Beberapa tools seperti TulisPaper.id menyediakan AI screening sebagai “second opinion” advisory.